Ketika Puisi Menjadi Jembatan Cinta, Ayah
dan Putri Merajut Kebersamaan Lintas Generasi
Oleh: Guru Ataya (Iwan Sumantri)
Cikiwul-
31 Agustus 2026. Guru Ataya. Sabtu malam, 29 Agustus 2026, menjadi salah satu
malam yang akan selalu Guru Ataya kenang. Di tengah semarak peringatan HUT
ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Kampung Cikiwul Tonggoh, RW 01,
Desa Sekarwangi, berkumpul dalam sebuah acara puncak yang bukan sekadar
perayaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat tali silaturahmi.
Tema
yang diusung begitu sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam: “Merajut
Kebersamaan Lintas Generasi.”
Malam
itu, anak-anak, remaja, orang tua, para tokoh masyarakat, alim ulama, pemuda,
ibu-ibu, hingga para sesepuh kampung hadir dalam suasana penuh keakraban.
Perbedaan usia seolah tidak menjadi sekat. Semua melebur dalam satu rasa: rasa
syukur, rasa memiliki, dan rasa cinta terhadap kampung halaman serta tanah air
Indonesia.
Di
antara rangkaian acara tersebut, Guru Ataya mendapat kesempatan untuk mengisi
sesi pembukaan dengan membacakan puisi. Namun, ada sesuatu yang membuat momen
itu terasa jauh lebih istimewa. Guru Ataya tidak membacakan puisi seorang diri.
Guru Ataya berkesempatan berdiri di panggung bersama putri kesayangan Guru
Ataya, Krani Pratiwi.
Bagi Guru
Ataya, panggung malam itu bukan hanya tempat untuk membacakan rangkaian kata.
Panggung itu menjadi ruang kecil tempat seorang ayah dan putrinya berbagi rasa,
berbagi suara, dan berbagi kenangan.
Ketika
suara kami bergantian melantunkan bait demi bait puisi, Guru Ataya merasakan
sebuah pesan yang lebih besar daripada sekadar kata-kata tentang kemerdekaan.
Ada pesan tentang keluarga. Ada pesan tentang cinta. Ada pesan tentang
bagaimana nilai-nilai perjuangan harus terus diwariskan dari satu generasi
kepada generasi berikutnya.
CERITA
SEDERHANA
13
tahun lalu mimpiku terkabul. Aku masuk jurusan psikologi yang aku ingin.
Berkelana ke bandung. Belajar hal baru bertemu teman baru..
Jangan
lupa pulang yah nak.. ketika ilmumu sudah cukup kembali ke rumah. Semuaku
usahakan untuk mimpi putri kecilku. Kamu hebat bahkan sebelum toga itu kau
pakai.
Rasanya
aku ingin menetap disini ayah.. Semua temanku semua hal yang membuatku bahagia
sekarang bukan lagi rumah. Aku punya mimpi baru dengan pengalaman yang aku
punya. Aku sudah besar, aku sudah jadi sarjana sekarang. Pengalamanku cukup
untukku hidup sekarang.
Sebentar,
Pulang.. rumah merindukanmu. Tidak mesti selamanya disini, ceritakan
sebentar tentang bagaimana kamu menjadi
beruntung itu. Bagaimana kamu sudah menjadi besar. Bagaimana semua hal hebat
itu kamu lalui..
Tahun
ini aku pulang ayah..
Aku
bertemu teman baru.. ada teh ana, ada a iky, ada bunga, ada ratu, ada nadiva,
ada sapar, ada Udi, ada Ian, ada Dhani, ada ebo, ada Revina, ada Zahra ada
Kaka, ada Ucup, ada Chandra, ada iko ada Silvi, ada Ferdi, ada Abang, ada
banyak orang orang baik itu. Bersama mereka aku merajut kebersamaan malam ini..
Mereka teman baru yang aku temui di rumah. 13 tahun lalu aku belajar bagaimana
mengabulkan mimpiku menjadi sarjana, hari ini bersama mereka aku mengabulkan
banyak doa untuk bersama.
Lihatlah,
rumah sehangat itu bukan ?. Ada keluarga yang menemani, ada teman yang membantu
ada banyak orang yang meyanyngimu, bukan karna kamu seorang sarjana, bukan juga
karna semua pengalaman mu, mereka ada hari ini karna kamu menyapanya, karna
kamu membersamainya karna kamu menjadi bagian dari cerita sederhana itu.
Teriknya matahari tetap memberi semangat nenek nenek cantik yang kamu percaya
untuk melaksanakan upacara bendera. Mata yang rabun tak membuat lansia menyerah
untuk belajar merajut. Gawang kecil itu tetap memberi bahagia untuk anak anak
yang bermain sepak bola, temanmu yang sudah jadi timnas memberi semangat untuk
adik adik kecil disini. Teman teman barumu jauh lebih hebat bukan ? Bisa
mewujudkan semua inginmu kemarin
Ayah..
terima kasih, karna selalu mengingatkan ku
untuk pulang. Sebentar yang melekat.. hal hebat itu sudah aku dan teman
temanku persembahkan untuk rumah bernama kampung Cikiwul.. Aku akan rindu semua
kebersamaan ini.. Rindu bagaimana hangatnya sebuah sapaan, begitu hangatnya
sebuah kebersamaan.. Malam ini ijinku aku berterimakasih untuk banyak raga yang
membantu putri kecil ayah ada dipanggung ini. Terima Kasih Ibu Bapak adik adik semuanya.. Mimpiku terkabul indah malam
ini, rumah ini akan selalu aku rindu.. Bawa cerita hebat itu kesini yah,
ceritakan hal hebat itu nanti. Aku akan tunggu banyak cerita indah lainnya di
tahun tahun berikutnya dari adik adik..
Ayah
bangga pada putri kecil ayah dan teman temannya. Terus bercerita dan bagi semua
kisah indah itu dimanapun kamu berada. Jika diperjalananmu nanti bertemu lelah,
ingat hari ini, hal hebat itu bisa kamu lakukan bersama mereka yang
membersamaimu.
.jpeg) |
| Guru Ataya bersama Putri Tercinta dalam Merajut Kebersamaan Lintas Generasi (Dok.Foto Pribadi) |
Guru
Ataya melihat putri Guru Ataya berdiri di samping Guru Ataya. Dalam hati Guru
Ataya terbersit sebuah kesadaran sederhana: waktu terus berjalan dan anak-anak
akan tumbuh menjadi generasi penerus.
Hari
ini mereka mungkin masih berdiri di samping orang tuanya. Tetapi suatu hari
nanti, merekalah yang akan berdiri di depan, melanjutkan apa yang telah kita
tanamkan hari ini.